UJIAN PRAKTEK
secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah.[1] Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi.[2]
Demokrasi liberal pertama kali dikemukakan pada Abad Pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Semasa Perang Dingin, istilah demokrasi liberal bertolak belakang dengan komunisme ala Republik Rakyat. Pada zaman sekarang demokrasi konstitusional umumnya dibanding-bandingkan dengan demokrasi langsung atau demokrasi partisipasi.
Demokrasi liberal dipakai untuk menjelaskan sistem politik dan demokrasi barat di Amerika Serikat, Britania Raya, Kanada. Konstitusi yang dipakai dapat berupa republik (Amerika Serikat, India, Perancis) atau monarki konstitusional (Britania Raya, Spanyol). Demokrasi liberal dipakai oleh negara yang menganut sistem presidensial (Amerika Serikat), sistem parlementer (sistem Westminster: Britania Raya dan Negara-Negara Persemakmuran) atau sistem semipresidensial (Peranci
s).
1. Untung Suropati
Untung Suropati (lahir di Bali, 1660 – meninggal dunia di Bangil, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang di Pulau Jawa. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.
Asal Usul Si Untung

Kapten van Beber
kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain di Batavia yang bernama
Moor. Sejak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat
pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi
nama Si Untung.
Ketika
Untung berumur 20 tahun, ia dimasukkan penjara oleh Moor karena berani
menikahi putrinya yang bernama Suzane. Untung kemudian menghimpun para
tahanan dan berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan.
Mendapat Nama Surapati
Pada
tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya
yang bernama Pangeran Purbaya melarikan diri ke Gunung Gede. Ia
memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.
Kapten
Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung.
Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai
buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan
ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.
Untung
menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula
pasukan Vaandrig Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan
kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai
Cikalong, 28 Januari 1684.
Pangeran
Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tapi istrinya yang bernama Gusik
Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini
kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan
Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.
Ketika
melewati Cirebon, Untung bertengkar dengan Raden Surapati anak angkat
sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Suropati.
Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama Surapati
oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung.
Terbunuhnya Kapten Tack
Untung
alias Suropati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma
pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh
anti VOC yang gencar mendesakAmangkurat II agar mengkhianati perjanjian
dengan bangsa Belanda itu. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma
dengan Suropati.
Kapten François
Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam
penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan
Februari 1686 untuk menangkap Suropati.Amangkurat II yang telah
dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.
Pertempuran
pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75
orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan untung
suropati.Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng
mereka.
Bergelar Tumenggung Wiranegara
Amangkurat
II takut pengkhianantannya terbongkar. Ia merestui Suropati dan
Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Suropati mengalahkan
bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya.
Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan
karena ia sendiri sudah kenal dengan Suropati di Kartasura.
Untung Suropati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara.
Pada
tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk
merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena
pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.
Kematian Untung Suropati
Sepeninggal Amangkurat
II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat
III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat
diri menjadiPakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat
III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.
Pada
bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura,
dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran
di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Suropati alias Wiranegara
tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya
dirahasiakan.
Makam Suropati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Suropati palsu.
Pada
tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi
mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Suropati yang segera
dibongkarnya. Jenazah Suropati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.
Perjuangan Putra-Putra Suropati
Putra-putra
Untung Suropati, antara lain Raden Pengantin, Raden Suropati, dan Raden
Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran
orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap
bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.
Sebagian
pengikut Untung Suropati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita
di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam
atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak
Suropati dalam perang tahun 1706.
Setelah
Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Suropati
masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam
pemberontakan Pangeran Blitar menentangAmangkurat IV yang
didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun
1723. Putra-putra Untung Suropati dan para pengikutnya
dibuang VOC ke Srilangka.
Untung Suropati dalam Karya Sastra
Kisah Untung Suropati yang legendaris cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Selain Babad Tanah Jawi, juga terdapat antara lain Babad Suropati.
Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Untung_Suropati
2. I Gusti Ngurah Rai
Kolonel
TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang,
Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 – meninggal di
Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November 1946 pada umur 29 tahun)
adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali.

Pemerintah
Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi
Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar
udara di Bali, Bandara Ngurah Rai.